Mengatasi Penyakit Malas Menulis

Kendala dalam menulis salah satunya adalah malas.Banyak orang yang suka menulis, tapi mereka dihinggapi penyakit MALAS. Pada waktu tertentu, mereka sangat bersemangat dan menggebu-gebu (terlebih ketika mengikuti pelatihan penulisan). Tapi setelah itu, kembali loyo.
Maka salah satu pertanyaan yang paling sering saya terima dari teman-teman penulis adalah, “Bagaimana cara menghilangkan penyakit malas menulis tersebut?”

Terima kasih kepada Pak Ikhwan Sopa, karena dari beliaulah untuk pertama kalinya saya mendapat KIAT JITU dalam mengatasi penyakit yang satu ini.

Berikut kiatnya:
Dalam melakukan apapun, Anda pasti pujuan tujuan, bukan? Termasuk dalam menulis, Anda pasti punya tujuan terrtentu. Apa yang membuat Anda ingin menjadi penulis? Jawaban atas pertanyaan ini adalah tujuan Anda.

Sayangnya (bahkan anehnya), banyak teman penulis yang justru bingung ketika ditanyai seperti ini. Mereka menjawab dengan ragu-ragu plus malu plus bingung, “Hm… apa ya? Apa tujuan saya?”

Hehehehe… lucu sekali, bukan?

Jawaban seperti ini sama seperti situasi ketika seseorang mencegat taksi di tepi jalan. Lalu ketika si supir taksi bertanya “Mau ke mana?”, dia menjawab, “Hm.. ke mana ya?”

* * *

Bila Anda bingung soal tujuan, maka SANGAT TIDAK ANEH ketika Anda malas-malasan dalam menulis. Sebab Anda tidak punya SESUATU untuk memompa semangat Anda.

Coba lihat perilaku seorang karyawan yang disuruh mengerjakan tugas tertentu oleh bosnya, sedangkan si karyawan ini tidak mengerti apa tujuan dari tugas tersebut. Dapat dipastikan, si karyawan akan ogah-ogahan atau merasa terpaksa ketika mengerjakan tugas tersebut. Dia bekerja hanya untuk melunasi kewajibannya. Itu saja. Titik.

Berbeda halnya bila sebelum memberikan tugas, si bos menjelaskan dengan detil apa maksud dari tugas tersebut, apa tujuannya, dan hasil seperti apa yang diharapkan. Si karyawan pasti lebih bersemangat. Apalagi bila di dalam tujuan tersebut sudah tercakup hal-hal yang menyangkut kepentingan si karyawan, seperti, “Bila sukses mengerjakan tugas ini, itu akan berdampak besar terhadap peningkatan karir kamu.”

* * *

Maka, bila Anda ingin menghalau penyakit MALAS MENULIS dari dalam diri Anda, HAL PERTAMA yang harus Anda lakukan adalah mendefinisikan dan mempertegas tujuan utama Anda dalam menulis.

tujuan menulisSaya tentu tidak mendikte Anda dalam hal ini, sebab setiap orang tentu punya tujuan yang berbeda-beda dalam hidupnya. Walau kita sama-sama suka menulis, saya yakin bahwa tujuan kita tidak mungkin sama seratus persen.

Namun karena banyak orang yang masih bingung soal tujuan ini, saya akan membantu memperjelasnya di bawah ini.

Ada beberapa CONTOH tujuan yang dapat Anda jadikan inspirasi (saya tidak menggunakan istilah “yang dapat Anda pilih”, sebab ini bukan multiple choises).

    Untuk berbagi ilmu/wawasan/pengetahuan dengan orang lain.
    .
    Untuk berdakwah dan beribadah lewat tulisan;
    .
    Untuk menghibur diri sendiri (sebab menulis ternyata bisa juga digunakan untuk self therapy seperti mengatasi stress dan sebagainya).
    .
    Untuk aktualisasi diri.

Tujuan manakah yang sesuai dengan hati nurani Anda?

Anda bisa memilih satu di antara empat poin di atas, atau Anda bisa menentukan berdasarkan kemauan Anda. Semua terserah Anda :)

Perlu diingat:

    Yang tertulis di atas hanya contoh sebagai BAHAN INSPIRASI belaka, BUKAN BAHAN UNTUK DIPILIH. Kalau tidak ada di antara ke-4 poin di atas yang sesuai dengan tujuan Anda, silahkan tentukan sendiri.
    .
    Seiring perjalanan hidup, tujuan seseorang bisa berubah-ubah. Karena itu, tentukan saja pilihan yang sesuai dengan hati nurani Anda SAAT INI. Bila misalnya dua tahun lagi tujuan Anda ternyata berubah, it’s okay. No problem.

* * *

Setelah menetapkan tujuan yang jelas, saatnya Anda memegangnya dengan sungguh-sungguh, menjadikannya panduan dalam langkah-langkah Anda selanjutnya.

Katakanlah Anda memilih nomor 4, yakni aktualisasi diri. Maka bila suatu saat nanti Anda malas-malasan dalam menulis, cobalah ingat lagi tujuan ini. Pikirkan hal-hal buruk yang dapat menimpa Anda bila tidak menulis:

    Saya tak bisa mengaktualisasikan diri.
    .
    Orang-orang tidak akan mengetahui potensi diri saya, karena saya belum juga menulis untuk mengaktualisasikan diri saya.
    .
    Saya masih bernasib seperti ini, masih diejek orang, masih diremehkan, masih tidak dianggap.

Ketika memikirkan hal-hal buruk seperti itu, yakin deh bahwa ada sesuatu yang “panas” di dalam hati Anda (percaya atau tidak, hati saya juga ikut panas ketika menulis ketiga poin di atas). Dan rasa panas seperti itulah yang nantinya bisa kembali membangkitkan motivasi Anda. Rasa malas Anda pun sirna seketika, berubah menjadi semangat yang menggebu-gebu!

* * *

Selain kiat di atas, ada beberapa KIAT TAMBAHAN yang dapat Anda terapkan:

    Rajin-rajinlah bertandang ke toko buku atau pameran buku. Perhatikan buku-buku yang dipajang di rak yang berjejer. Katakan pada diri sendiri, “Seharusnya buku saya yang dipajang di sini. Kenapa belum dipajang juga?”
    .
    Bergabunglah dengan komunitas penulis. Ada Forum Lingkar Pena (FLP), atau milis-milis penulisan yang banyak tersedia di internet. Di komunitas seperti ini, Anda akan bergaul dengan para penulis lain. Pergaulan inilah yang bisa membantu Anda untuk terus termotivasi.
    .
    Hadirilah acara launching buku, bedah buku, atau pelatihan penulisan Acara-acara seperti ini pun bisa menjadi kompor tersendiri bagi motivasi Anda.

* * *

Masukan Penting:

penulis suksesAda orang yang berkata bahwa tujuan dia menulis adalah uang, popularitas, atau hal-hal yang sejenis seperti “Agar mendapat penghargaan” dan seterusnya.

Oke, ini tidak salah-salah amat. Tapi tahukah Anda, bahwa itu semua adalah tujuan yang menyesatkan? Sebab bila tujuan seperti itu tidak tercapai, Anda bisa jadi kehilangan semangat, kecewa, bahkan frustasi dan stress.

Padahal sebenarnya, hal-hal seperti uang, polularitas, mendapat penghargaan dan seterusnya, merupakan EFEK SAMPING belaka (Demikian menurut Helvy Tiana Rosa).

Bila Anda tekun menulis, bekerja keras, tak pernah menyerah, dan selalu meningkatkan kualitas diri, maka hal-hal seperti uang, popularitas, penghargaan dan sebagainya akan datang dengan sendirinya tanpa perlu Anda minta atau cari. Sebab semua itu memang HANYA efek samping belaka.

Untuk apa kita mati-matian bekerja hanya untuk sebuah efek samping? Tanpa dikejar pun, bukankah efek samping akan datang sendiri menghampiri kita?

Saran saya, lebih baik ubah tujuan kita ke arah hal-hal yang lebih mulia, seperti:

  • Ingin berbagi dengan sesama
  • Ingin berdakwah lewat tulisan.
  • Dan seterusnya.

Atau tetapkan tujuan yang lebih kepada pengembangan diri sendiri, seperti:

  • Ingin menambah teman dan pergaulan.
  • Ingin melakukan self therapy lewat tulisan.
  • Dan seterusnya.

Insya Allah, tujuan-tujuan seperti ini akan lebih abadi. Selanjutnya penulis akan memberitahu bagaimana cara menulis kreatif.

Semoga bermanfaat, semoga terinspirasi.

3 komentar: